Serial A-Kai (Anak Kairo)
Aeh lupa apa judul karya fiksi dibawah ini. Karena memang disamping sudah lama sekali Aeh membuatnya, plus awalnya ini adalah tulisan yang belum rampung. Niatnya tulisan ini untuk mengisi karya fiksi bulettin Sriwijaya milik KEMASS-Keluarga Masyarakat Bagian Selatan (salah satu organisasi kekeluargaan di Mesir) hanya karena terjadi diskomunikasi dengan Pemred-nya (Aeh ingin tulisan ini dibuat serial tapi sang pemred hanya menghendakinya hanya sekali saja-cerpen) saat itu tulisan inipun terhenti. Ini rahasia sebenarnya, itu alasan Aeh saja sih karena males untuk melajutkan menulis serial ini. Yah mudah-mudahan saja lah ada niat dan kemuaun lagi untuk melanjutkannya. Ada cerita menaril dibalik (niatnya-serial ini. Karakter-karakter di serial inipun banyak terilhami dengan orang-orang yang saat itu tinggal seatap denga Aeh. Hanya sedikit menjadi masalah kala teman yang tinggal serumah itu menebak-nebak bahwa karakter ini pasti presentasi untuk si anu. Atau karakter itu untuk menggambarkan si dia. Padahal Aeh engga niat untuk mengkopi karakter teman-teman itu. Walaupun harus diakui banyak kemiripan dan harus diakui ada beberapa karakter yang -juga- mengkopi nama asli, teman-teman maafkan Aeh. Untungnya ini tak membuat hubungan diantara kami renggang, lagipula Aeh engga pernah menyudutkan siapa-siapa -ya adalah satu atau dua, biasa khilaf-alesan. Selamat membaca…
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
I.
Suara adzan sayup menggetarkan jiwa setiap insan pun pada Zul yang terkapar di tempat tidurnya, menerobos masuk telinga kecilnya dan ….
“Allahu Akbar..!” teriaknya lantang.
Lima belas menit berlalu.
“Ya ampun terlambat lagi sholat jamaahnya, aduh mata masih sepet banget lagi” guman Zul yang antara sadar dan tidak. Ia melongok keluar jendela kamar, jamaah baru saja usai. Udara sejuk dari tingkap jendela menyelimuti tubuhnya membuatnya terbuai, selanjutnya…..
“Zzzzz…” shubuh di kamar itu kembali hening.
* * *
“Huaah…, apa! udah jam enam, ya lewat lagi sholat shubuh jamaahnya hari ini” Zul hanya merutuk dalam hatinya.
Kerlingan Mata-hari, genit menyapanya membuatnya tersipu, masih kalah sama sang mentari. Sudah beberapa hari dalam minggu-minggu terakhir ini ibadah Zul memang turun drastis, tak pernah tepat waktu sholatnya terutama untuk yang satu ini, sholat shubuh.
“Arie, kok aku engga dibangunin sholat sih!” Ari, orang pertama yang ia temuinya pagi itu langsung ia introgasi. Sekali dua kali kalau dibiarin bisa-bisa aku benar-benar kebiasaan, pikir Zul bete.
“Eh tunggu-tunggu, engga dibangunin? Kayaknya pertanyaanya harus dirubah deh! ‘Andrie, kok Zul-nya engga di siram air sih biar bangun. Zowel, ane tuh udah bangunin ente dua kali sebelum dan sesudah sholat jamaah selesai, dan bang Aang juga udah bangunin ente ampe tiga, eh empat malah yang ke empat malah bang Aang bukan niat bangunin aja tapi ngeyakinin…”
“Ngeyakinin? Ngeyakinin apaan?” tanyanya kurang jelas
“Iya, ngeyakinin apa kamu masih hidup apa udah lewat, abis tidur kamu itu loh, ya ampun, gempa bumi aja engga ngaruh kali. Kamu pingsan yah?”
“Hah, berarti Zowel udah dibangunin enam kali yah, kok engga berasa sih. Maaf deh, abis asli Zowel bener-bener engga ngerasain ada yang bangunin”
“Uih, zul-zul, makanya tidurnya dicepetin kan sekarang shubuhnya jam 4 setengahan”
“Zowel udah pernah coba tuh tidur cepet tapi kok bangunnya sama aja yah!” Zul masih mencoba mencari pembelaan.
“Udah deh engga usah ngomong yang macem-macem dulu, sholat aja dulu dih nanti kita buat rapat khusus buat yang satu ini”
Sebenarnya banyak yang ingin ia utarakan, tapi setelah mendengar bahwa masalah ini akan di tindak lanjuti karenanya iapun tak ambil pusing lagi.
* * *
Di rumah ini mereka tinggal berdelapan, ada bang Aang yang pendiam tapi kocak dan jadi berubah rame kalau kumpul dengan orang-orang yang di kenal baik dengannya. Ada bang Arif yang searif namanya. Ada bang Noer yang ajaib, kalau di lihat dari belakang ia lebih mirip Keanu Reeves-nya Matrix, dari samping mirip Brad Pitt, nah yang jadi masalah kalau dari depan kok mirip Mr. Bean sih. Kenapa bisa begitu? Nah disitulah letak keajaibanya, memang jadi banyak yang kecewa dengan perbedaan yang mencolok ini, hal itu juga yang menjadikanya selalu membelakangi orang yang akan berkenalan dengannya, aneh kan? Selain mereka bertiga sisanya berlima masih anak baru di sini, ada Ari yang lebih mirip bang Arif, ada Aziz yang hafiz qur’an tapi gaul, ada Sueb anak yang satu ini suka agak kampungan tapi nyentrik, dan ada juga Giri yang pendiam dan ramah, hanya terlalu perasa dan terakhir yang tak kalah heboh dan cuakep perkenalkan, namanya Zowel Van Dersen sebenernya nama aslinya sih…
“Zul Adli bin Ahmad Abbas!”
Nah yang manggil ini pasti bang Noer, ia harusnya di tambah juga di catatan riwayat hidupnya, suka merusak cita rasa orang, liat aja caranya manggil nama orang lengkap plus nama orang tua di bawa, alasannya logis gak logis ‘Nantikan di yaumil mahsyar kita akan dipanggil dengan nama orang tua kita’ padahalkan apa hubunganya coba?
“Ya, saya!” nah, untuk menjawabnya juga memang harus seperti yang dicontohkan Zul tadi, kalau menurut sumber terpercaya, bang Noer ini masih keturunan kekeratonan Surakarta yang sangat menjaga adat yang mengikat, bisa di bilang masih keturunan darah biru lah. Tapi ini agak sedikit menjadi masalah kalau mengimformasikan ke Sueb soalnya anak ini masih penasaran dengan darah birunya bang Noer, setelah beberapa kali ia tertangkap tangan sedang berusaha mengambil sampel darah bang Noer kala bang Noer tidur atau lengah. Bukan masalah sampelnya, cuma caranya itu yang kadang menyeramkan.
“Kamu ngeliat kaca mata hitam saya engga?” Bang Noer bertanya kepadanya dengan setengah badan berada di bawah ranjang.
“Bukannya di lemari, kan biasanya juga di sana.”
“Ia sih kayaknya emang di sana!” bang Noer masih berbicara dengan posisi awal
“Terus kok masih nyari di bawah ranjang,” tanya Zul penasaran.
“Nah, itulah masalahnya, kunci lemarinya sekarang yang engga ada, perasaan jatuh di bawah ranjang deh!” bang Noer sepertinya kewalahan.
Selalu seperti itu abang yang satu ini, ada saja keanehannya. Zul dengan masalahnya tentang sholat subuh yang terlambat menjadi terlupakan karena turut sibuk mencari kunci yang hilang, setengah jam berlalu dan hasilnya…,
“Kok engga ada di mana-mana yah?” bang Noer seperti putus asa, melihat usahanya nihil.
“Bang, kenapa sih lemarinya di kunci-kunci segala biasanya kan juga di biarin aja, atau paling kuncinya di tinggal aja.” Zul mencoba menanggapi.
“Iya sih perasaan abang juga engga di kunci dan yah itu tadi kalau di kunci paling kuncinya di tinggal atau di simpan, dan tempat barang-barang kecil begituan yah di …lemari!” bang Noer sorak-sorak bergembira, dan pergi menghambur ke lemari yang di permasalahkan kuncinya, membukanya dan mendapati kunci yang ia cari ada di sana teronggok manja dengan kaca mata hitam menemaninya.
“Jadi ternyata lemari engga di kunci, ya ampunnn.” Zul hanya bisa menggeleng, tak mengerti.
Zul pergi meninggalkan bang Noer yang masih histreris dengan ‘penemuannya’ karena ia mendengar suara bel. Ia pun segera membuka pintu.
“Assalamualaikum!” suara baritonnya Sueb yang khas di padu dengan suara Aziz yang merdu, paduan yang tak sinkron.
“Waalaikum salam”
Mereka berdua berhambur masuk dengan bawaan yang menggunung, pantas mereka lebih memilih memencet bel daripada harus sibuk mencari kunci rumah.
“Gimana rihlahnya?” tanya Zul pada mereka berdua.
“Asli, keren abis!” Sueb terdengar antusias
“Lumayan, kacang” ini jawabanya Aziz, sejak pertama kali nonton ‘Cinta 24 karatnya si Thabitha’ jawabannya selalu seperti itu.
“Giri kemana, kok engga bareng?”
“Oh, tadi turun di hay 7 lansung mau nyuci filem di sya’mi katanya, nih barangnya kita yang bawain.”
“Ih asli pantai Aghibanya keren banget, kayak di Bali” masih semagatnya Sueb menceritakan pengalamannya.
“Emang kamu pernah ke Bali Eb?” Zul dan Aziz bertanya bersamaan.
“Belum, kata orang sih! Hehe…..” Sueb hanya mesem-mesem, asem.
“Yeee…” pendegar kecewa.
“Eh, tapi diluar panas yah” Sueb selalu saja tampak bersemangat, apalagi hal ini ia pikir mampu mendongkrak popularitasnya di jagat selebritis Kairo, emang mobil di dongkrak.
“Iya yah, engga kayak di London” Zul coba menanggapi
“Emang kamu pernah di London Zul, ih keren banget” Sueb terlihat penasaran
“Kamu pernah ke sana Zul, gentih bengih” Aziz yang kambuh latahnya juga ikut penasaran.
“Engga sih, kan kata orang…”
“Hahahaha” Zul dan Aziz tertawa berderai demi melihat Sueb kecewa, poin satu satu.
* * *
Malamnya meraka sekeluarga semua kumpul di ruang tamu, ngobrol-ngobrol ringan sekalian menentukan tempat yang cocok buat ngumpul untuk membahas masalah-masalah rumah. Rumah Ar-Ribath memang mempunyai kebiasaan yang patut membuat penghuni rumah lain iri, selain penghuni yang solid dan kocak-kocak juga itu tadi kebersamaannya yang selalu terjaga dengan agenda-agendanya yang oke punya, salah satunya yah ini rapat bulanan rumah yang di adakan di luaran sekalian rihlah rumah. Hanya malam ini yang kelihatan bulu hidungnya cuma bang Aang, kan hanya beliau yang mempunyai kelebihan seperti itu, eh kok malah ke bulu hidung sih?? Maksudnya yang tidak kelihatan batang hidungnya cuman bang Arif katanya sih mau ada rapat, biasalah aktifis Kairo.
“Jadi kemana nih besok?” tanya bang Noer mencoba menarik perhatatian yang lain.
“Saya sih terserah jumhur aja, asal di kondisikan saja dengan kantong kita-kita ini yang engga punya minha*.” Giri angkat berbel, eh…. bicara maksudnya.
Di rumah ini semua punya minha, selain Sueb dan Giri.
“Gimana kalau ke Hadiqoh Hayawan*, kan banyak yang belum pernah tuh?”
“Engga mau ah!”
Usulan manis bang Noer terpaksa di tolak mentah-mentah oleh Giri, karena nih anak memang punya pengalaman yang kurang menyenangkan pas acara rihlah ke hadiqoh hayawan dengan teman-teman sealmamaternya minggu lalu. Bayangin aja pas ngelewatin tempat gajah, masak sama teman-teman yang lain ia ngebanding-bandingin dengan fostur tubuhnya dengan gajah, mentang-mentang badannya yang berbentuk (berbentuk gendut maksudnya) kan seharusnya engga perlu di banding-bandingin lagi, kan emang udah mirip! Semua sudah sama-sama paham masalahnya dan ususlan ke hadiqoh terpaksa di tolak.
“Usul konkrit, usul konkrit” Sueb yang baru menghabiskan waktu dengan ikutan acara rapat-rapat, jadi ke bawa-bawa terus.
“Gimana kalo ke Hadiqoh yang baru, yang ada di Rab’ah ituloh”
“Di Rab’ah ada Hadiqoh?” tanya Zul tak tahu.
“Iya yang baru di buat, pas di depan Wajir difa’*, Hadiqoh Firauaniah” Sueb coba menjelaskan detail.
“Hadiqoh Firauniah? Di depan Wajir difa’?” Zul masih berpikir keras. “O… itu yah pas pintu masuknya dan jalan. Itu sih bukannya hadiqoh, hadiqohtul atfal* mungkin” jawab Zul sekenanya, abis memang kecil banget, sama rumah yang mereka huni aja masih gedean…. istana kepresidenan.
“Usul konkrit-usul konkrit, usul konkrit apaan” Ari agak kesal, soalnya ia juga sempat di buat bingung juga tadi.
“Usul saudara Sueb kami tampung dan kami lupakan, hehehe…” bang Aang muncul kocaknya.
Akhirnya setelah menerima beberapa kali masukan, dengan pertimbangan yang matang dan seksama maka di putuskan kumpul besok akan di adakan di hadiqoh tifl. Komfirmasipun dilangsungkan menghubungi bang Arif, pembagian gawean dan pengkoordiniran dana tambahan, sebenarnya sudah ada dana tetap dari ‘pemerintah rumah’ hanya saja ada usulan acara mendapat subsidi lebih. Sangat berbeda bukan dengan anggota-anggota legisiatif yang kalo tiap ngumpul tuh pasti di pakai buat pencarian dana untuk kekayaan pribadi. Ada yang berbeda untuk kumpul kali ini di samping bulan depan akan vacum engga ada acara kumpul di sebabkan konsentrsi penuh ke ujian, di tambah masuknya beberapa masalah dan keluhan dari beberapa anggota rumah yang memerlukan rapat yang panjang.
* * *
Minha : Beasiswa
Hadiqoh : Taman
Hadiqoh Atfal : Taman Kanak-kanak
Wajir Difa : Departemen Pertahanan
Desember 4, 2007