Menjadi Pribadi Beruntung 1

Posted On September 2, 2009

Disimpan dalam Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Orang itu hidup dengan  apa yang ia pikirkan. Setiap dari kita mempunyai dunia sendiri yang kadang kita hanya asyik sendiri di dalamnya. Menulis adalah satu cara mengajak orang lain, berbagi dan tour dalam dunia kita. —– Sudah lama sebenarnya mau menulis yang satu ini. Saya selalu percaya bahwa kita hidup dengan apa-apa yang kita percaya. Sama dengan yang saya agak singgung dalam tulisan kemarin. Malah kadang kita hidup pada pikiran orang-orang disekitar kita. Ada satu queto yang selalu saya ingat dari anime favorit saya ‘One Piece’. Orang itu meninggal bukan saat ia dinyatan mati, tapi seorang meninggal saat ia dilupakan. Bayangkan banyak orang-orang yang sudah meninggal begitu lamanya masih dekat dengan kita, hidup dipikiran kita. Nabi Muhammad saw. yang walaupun kita ummat muslim tak berjumpa langsung dengannya, terasa begitu dekat dalam kehidupan keseharian seorang muslim. Karena memang Rosul itu hidup dalam pikiran kita. Dan itu terus terbangun seiring dengan semakin banyak info tentang beliau yang kita dapat. Tulisan saya ini sebenarnya bentuk sugesti ringan. Apakah Anda pernah merasa bahwa dunia sedang berlaku tak adil pada Anda? Atau kadang kita berangan andai saja hidup yang kita dapati dan jalani sekarang ini bisa lebih baik. Tak salah sih pikiran seperti ini, karena inilah satu alasan peradaban lahir dan berkembang. Tentu saja kalo tak berhenti disana, harus ada usaha yang menyertainya. Tapi pernahkan Anda berpikir betapa beruntungnya diri ini. Jadi ingat kemarin pas ulang tahun seorang teman baru mendoakan saya supaya mendapat yang terbaik. Saya membalasanya, bahwa saya sudah tuh mendapatkan yang terbaik, apa lagi kalo bukan nikmat Islam ini. Dalam lubuk hati yang paling dalam, I mean it that. Saya tak bisa membanyangkan kalo saya tak mendapatkan nikmat ini. Bentuk rasa bahagia, gembira ataupun sedih semuanya adalah pabrik dari pikiran kita sebenarnya. Karenanya jangan heran kalo sebenernya saat kita melihat orang gila, kalo kita tahu malah mungkin ia justru lebih berbahagia dari kita. Saya ingat kisah seorang dokter di rumah sakit jiwa bahwa ia melihat salah seorang pasienya yang hilang ingatan, mempunyai dunia yang ciptakan sendiri. Sang dokter merasa justru itulah yang terbaik baginya. Ia merasa justru kalo ia kembali kedunia aslinya justru hanya aka diliputi kesedihan, melihat betapa tragisnya hidup yang ia jalani. Ingin sebenarnya membahas yang satu ini. Tentang bagaimana dahsyat otak kita ini bekerja. Yang mampu membuat dunia baru, demi menjadikan sebuah ‘pelarian’ dari tekanan diluar. Artinya banyak hal yang sebenarnya itu bukan hal buruk yang kita dapatkan, hanya pengetahuan kita yang terbatas atau pemahaman yang macam-macam menjadikan kita menganggap bahwa hal itu buruk. Ingat bangai mana al-Qur’an mengingatkan kita, kadang ada hal yang kita anggap buruk justru itu lah hal terbaik. Atau malah kadang sebaliknya, kita menganggap bahwa kita mendapatkan keberuntungan justru ternyata itu bukan yang terbaik untuk kita. Inilah alasan juga bagaimana kita diperintahkan agar supaya ingat-ingat pada Allah. Hal apapun yang datang itu datangnya dari takdir Allah. Jadi jangan terlalu senang sampai lupa diri dan juga juga jangan terlalu putus asa kala kita ditimpa musibah, percaya-lah ada Allah–selalu– yang setia mendengar keluh kesah kita. Yang selalu setia ada, kala kita mengadunya dengan terisak. Jadi sebenarnya tak ada alasan putus asa dalam hidup kita ini. Dalam kondisi bagaimanapun kita masih dalam posisi beruntung.

Jadi sebenarnya tak ada alasan bagi kita berputus asa. Apapun yang terjadi ada Allah tempat kita kembali dan mengadu. Dan Allah tak pernah mengecewakan hambanya, justru kadang sebaliknya kita yang banyak mengecewakan-Nya. Bisa saja kejadiannya lebih buruk lagi. Itu salah satu yang dengung-dengungkan kala saya ditimpa hal yang tak mengenakan. Itu juga yang saya pakai kala menasehati orang lain. Bukan hanya pada kata-katanya, kalo kita mau mengerti lebih dalam, ia benar adanya. Kita ummat muslim selalu diposisikan beruntung sebenarnya. Karena segala yang terjadi kalo kita sudah menyerahkan semuanya kepada Allah dan diniatkan ibadah, every things is fine.

Sekarang jadilah bagian dari orang-orang yang beruntung itu dengan mengubah cara berpikir kita sekarang. Tak ada yang tahu bagaimana nasib kita kedapan satu hal yang pasti Allah selalu bersama kita. Kalo kita sudah menanamnya rasa itu dalam jiwa, apa lagi yang kita takutkan bukan.

Alasan Kita Hidup

Posted On September 1, 2009

Disimpan dalam Renung

Comments Dropped leave a response

Dengan diiringi musik Alones by: Aqua Timez. Bagi yang suka nonton anime Bleach, mungkin sudah tak asing lagi dengan musik ini. Saya akan mencoba menyambung tulisan kemarin. Sebenarnya saya ingin menyarankan untuk menyiapkan popcorn dan minuman ringan untuk menemani selama membaca tulisan saya, hanya suasan puasa Ramadhan seperti saat ini tentu saja tak tepat. Yang pasti mungkin tulisan ini akan sedikit panjang.

Dalam tulisan kemarin dari pertanyaan seorang teman dan berlanjut pada diskusi membawa saya pada pertanyaan lama itu, ~jadi apa sebenernya tujuan kita hidup? Pertanyaan ini sudah cukup lama sebenarnya sudah mampir diotak. Awalnya–mungkin–dimulai saat Bapak saya dan kakak saya yang nomor dua berujung pada pertnyaan apa yang kita lakukan dengan ibadah kita ini. Bapak dan kakak saya sepakat bahwa semua ibadah yang kita kerjakan adalah jalan-jalan menuju surganya. Dan saya tak sependapat dengan itu. Saat itu saya menjawab bahwa tujuan sebenarnya bukan itu. Jawaban yang terlontar kala itu adalah bahwa ibadah yang kita lakukan tak lebih adalah jalan-jalan mencari ridho-Nya. Tentu saja tak salah dengan mengatakan bahwa kita sangat berharap ibadah ini sebagai penebus tiket ke surga. Hanya lagi-lagi saya cuma itu tak tepat, dan saat itu saya tak tahu gimana menaruhnya dalam sebuah alasan logis. Hanya, hampir 5 tahun lebih sejak itu alhamdulillah jawaban saya masih sama. Dan syukurnya saya punya alasan yang memuaskan saya.

Dulu dalam sebuah room chat, saya iseng-iseng mengangkat masalah ini. Apa sih tujuan kita hidup ini? Tentu saja saya mendapatkan beragam jawaban. Sayang saya tak mengingatnya lagi. Hanya yang saya tangkap, sebenarnya banyak dari kita tak benar-benar tahu jawaban untuk yang satu ini. Ini bukan sesuatu yang biasa kita dapatkan dibangku sekolahan. Juga bukan dari sudah berapa lama kita menjalani hidup. Banyak orang yang sudah hidup-hidup bertahun-tahun masih bingung dengan jawaban ini. Bukan berarti penulis merasa sok tahu. Karena saya juga tak yakin dengan penjabaran ini. Hanya satu hal yang pasti, Allah itulah tujuan kita. Tentu saja itu bukan menjadi jawaban yang menjawab semuanya. Pertanyaan itu memang sangat komplek tentunya.

Mari kita rangkai satu-satu. Bagi kita seorang muslim ibadah adalah salah satu sarana dalam jalan-jalan kita menemui cinta-Nya. Dan tentu saja ibadah tak sebatas pada vertikal yah. Dalam pembicaraan saya dengan teman saya, ia menangkap ada yang tak adil. Ada yang sepertinya tak tepat. Kenapa kita harus dijadikan sebagai manusia, yang memiliki nafsu. Kalau memang Allah mau kita hanya beribadah kepada-Nya kenapa kita tak dijadikan sebagai malaikat, yang setiap detik hidupnya dihabiskan hanya untuk beribadah. Berbuat dosa menjadi hal yang mustahil dilakukan. Mengingat ia tak pernah terpikir untuk melakukannya, jangankan itu, karena memang pada dasarnya malaikat tidak ada kecenderungan lain selain ibadah. Lain dengan kita manusia.

So, ada alasan lain kenapa kita dijadikan sebagai manusia. Ingat-ingat bahwa apa yang Allah ciptakan karena ada tujuan. Jadi kalau kita merasa tujuan dan alasan kita hidup hanya ibadah, bukan itu tak tepat. Tapi, ada yang lebih dalam dari itu. Ibadah tentu saja salah satunya. Hanya kenapa kita dijadikan manusia, bukan malaikat yang dua-duanya dituntut untuk beribadah kepadanya. Malah kalo mau lebih ektremnya semua yang Allah cipatakan adalah untuk satu alasan menyembah kepada-Nya. Termasuk didalamnya iblis/syetan, jin, hewan, tumbuhan dan mahluk ciptaan Allah lainnya. Lalu kenapa kita dijadikan manusia?

Dulu saat di pondok, Kiai saya mengatakan betapa kita semua ini adalah makhluk-makhluk pilihan, manusia pilihan. Saat kita semua masih dalam berbentuk segumpal mani, ada ratusan ribu sperma yang berjuang untuk bisa sampai pada rahim ibu kita. Dan dari sebegitu banyak hanya saya satu yang bergabung dengan indung telur. Dan itu siapa lagi kalo bukan kita-kita ini. Dari awal kejadianya saja Allah seakan sudah memberikan pesan betapa istimewanya kita. Karena kalo kita mau lebih membaca lagi lebih ayat-ayat Allah, kita akan semakin tahu betapa sayangnya Allah pada kita.

Keistimewaan kita manusia tentu saja tak berhenti sampai disana. Ini akan membawa kita pada bahasan awal tadi kenapa kita dijadikan sebagai seorang manusia, dengan tujuan yang sama dengan makhluk Allah lainnya. Ada yang tersirat dari sana sebenarnya. Saya melihatnya sebagai sebuah bentuk lain cinta Allah pada kita. Seakan-akan ia sedang memberi kesempatan pada kita untuk menjadi hamba yang paling mulia. Hanya satu makhluk yang diberi dikesempatan untuk mampu melebih malaikat, dan itu adalah kita manusia. Cuma kita juga harus ingat, kalo kita salah menggunakan kesampatan yang Allah beri ini, kita bisa juga jatuh pada jurang hina yang bahkan syetan-pun malu berteman dengan kita.

Teman saya melihatnya sebagai sebuah kesempatan yang menakutkan. Sebenarnya saya juga bisa membaca dengan sekilas, terkesan hidup ini adalah gamble/judi. Yang kita tak pernah tahu apakah kita berhasil atau gagal. Tentu saja kalo boleh memilih mungkin kita ingin dijadikan oleh Allah sebagai malaikat saja. Dengan demikian kita tak perlu takut akan ancaman siksanya. Hanya ternyata kalo kita lebih dalam lagi, sebenarnya batapa cinta dan percaya Allah pada kita. Banyangkan kalo kita akan meminta seseorang melakukan suatu tugas/misi, kita akan sangat hati-hati memilih orang yang akan kita utus bukan. Semakin penting misinya semakin lebih selektif orang yang akan kita pilih.

Sebenarnya begitu juga dengan kita manusia. Allah itu sedang menaruh misi penting pada kita. Misi yang dengannya kita mampu membuat malaikat iri. Yang dengannya tempat yang diidam-idamkan bukan lagi sebuah angan-angan–mimpi bersanding dengan-Nya. Misi ini bentuk kepercayaan berlebih pada kita manusia. Bentuk cinta, percaya dan segala bentuk rasa betapa Allah sangat berharap pada kita.

Saat Allah menjadikan manusia, ada begitu cinta yang Allah titipkan. Ia sangat berharap dan percaya kita akan keluar dalam misi ini sebagai orang yang sukses. Segala bentuk yang disampaikan dalam al-Qur’an berupa ancaman ataupun janji ditempatkan yang dimimpi-mimpikan semua orang sebenernya jalan-jalan kecil semua kita tetap ingat akan misi awal kita. Jalan-jalan kebaikan dibuka seluas-luasnya oleh Allah, dan jalan-jalan yang menjauh dari surganya seakan-akan di halangi-halangi. Masih ingatkan ajaran bagaimana saat kita memikirkan akan mengerjakan sebuah kebaikan kita sudah langsung mendapatkan ganjaran pahala dari-Nya. Berbeda dengan dengan pikiran buruk kita. Ia tak diganjar apa-apa sampai kita benar-benar telah melakukan keburukan tersebut.

Allah itu sangat-sangat percaya pada kita. Ia terus mengutus nabi-nabinya sebagai orang-orang yang mengingatkan kita akan misi awal kita hidup. Padahal dengan otak ikhlas berpikir sebenarnya kita sudah bisa mendapatkan jawaban itu, bahwa kita ada untuk-Nya. Tapi, Allah terlalu sayang dengan kita, Ia membuka lebar-lebar pintu Rahmat-Nya dengan dikirim Nabi-nabi dan Rosul untuk selalu mengingatkan kita.

Segala bentuk kesalahan dan dosa yang kita lakukan adalah murni dari kita. Allah memberikan kita berupa pinjaman anggota badan, dunia dan segala isinya, juga nafsu dalam kuasa kita. Ini yang menjadi amunisi kita sebenarnya untuk menggapai misi sukses kita. Allah memberikan nafsu bukan menginginkan kita agar menurutinya. Allah memberikan ini sebagai bentuk percaya bahwa kita mampu melewatinya. Allah sangat percaya kita justru mampu menjadikannya sebagai jalan-jalan terbaik untuk suksek menggapai ridho-Nya.

Teman saya berkomentar, jadi hidup yang kita jalani adalah tanggung jawab kita kan. Tak ada Allah bermain dalam semua keputusan yang kita ambil. Dan itu betul cuma kita harus ingat-ingat tubuh, nyawa bahkan ruh ini adalah pinjaman. Yang namanya pinjaman akan diminta pertanggung jawaban. Kita bisa berbuat apa saja dengan pinjaman ini, tapi juga menjadi hak Allah menganjar kita dengan siksa yang sangat pedih kalo menggunakannya pada hal-hal yang Ia tak suka. Percakan itu berujung pada pertanyaan teman saya, kenapa seperti itu. Otoriter sekali terlihat. Saya langsung menjawabnya, bahwa itu suka-suka Allah. Segala yang dibumi dan dilangit adalah miliknya. Kita ingin cuma numpang. Semua yang kita punya adalah miliknya yang kita pinjam. Kita tak punya apa-apa bahkan ruh adalah milik-Nya. Jadi terserah Allah mau giman-gimana. Tapi yang pasti–saya segera menambahkan–Allah selalu berprasangkan baik dan percaya pada kita. Allah selalu menunggu untuk kita kembali pada-Nya dengan wajah jumawa, bahwa kita telah menyelesaikan misi dengan sempurna.

Jadi tak ada alasan lagi sebenarnya kita tak menggapai misi sukses ini. Allah dengan kepercayaan penuh dan cinta-Nya pada kita. Menjadikan semuanya tak begitu penting. Ada Allah dalam langkah-langkah kita. Ada Allah yang menunggu kita di pintu surga-Nya. Bagi saya tak terlalu penting surga ada dan tidak, yang terpenting adalah jangan sampai membuat Allah kecewa. Karena pada awalnya kita ini tak pernah ada bukan. Kalaopun nantinya setelah kita mati nanti tak dihidupkan oleh Allah lagi pun tak jadi soal dan itu memang hak Allah. Tapi misi ini sudah di berikan. Amanat ini harus di jalankan. Tinggal hasil akhir yang Allah langsung menunggu laporannya. Semoga diakhir misi ini membawa pada ujung jalan cinta dan ridho-Nya. Agar sampai nanti saat bertemu dengan-Nya, saya mampu menatapnya tanpa tertunduk malu.

Jalan Hidup Yang Seperti Apa

Posted On Agustus 31, 2009

Disimpan dalam Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Kemarin seorang teman yang sudah lama tak berjumpa mampir kerumah. Dari bincang-bincang kecil menjadi begitu hangat dan ‘panas’. Memang menurut saya, ini adalah salah satu teman yang enah diajak untuk berdiskusi. Karena saya merasa bukan tipe yang baik dalam berdiskusi karena biasanya berujung debat. Padahal saya adalah contoh yang paling buruk kala melakukan debat. Apalagi kalo bukan alasan yang tak mau kalahnya itu. Kekurangan ini yang mau saya perbaiki. Baik kebahasan, entah dari mana bincang-bincang kami dimulai? Mungkin dari sini:
Bagaimana kalo ada seseorang yang memilih untuk hidup hanya dengan dipenuhi hari-harinya hanya dengan ibadah kepada Allah, dengan mengandalkan kebutuhan sehari-harinya ia akan sandarkan kepada Allah. Tentu saja saya tidak setuju, saya belum terpikir kenapa, hanya ada perasaan bahwa itu bukan jalan hidup yang tepat. Oh iya, awalnya kenapa mencuat bahasan ini saat ia menawarkan kalo saya mau mengopi film Maryam dan Ashabul Kahfi. Karena menurutnya toh adaloh orang yang hidupnya dipenuhi hanya dengan beribah kepada tuhannya, dan kebutuhan sehari-harinya Allah langsung yang menjadi penyuplainya. Dan sahabat saya ini mencontohkan dengan kisah Maryam ini.
Jawaban awal yang terlontar, hanya menafikan hal tersebut. Lagi pula itu hanya orang-orang pilihan saja, ujar saya. Namun baginya tapi bukan tak mungkin kan diraih. Ia lalu menambahkan bagimana para wali-wali Allah menjalani hidup yang penuh dengan keajaiban-keajaibanya. Saat itu saya coba berpikir keras, apa jawaban yang tepat untuk yang satu ini.
Dengan otak yang sudah cukup lama tidak dipakai untuk hal-hal seperti itu, jawaban yang keluar pun tak beraturan. Saya hanya menjawabnya bahwa bukan seperti itu hidup yang harus kita jalani. Bukan sekedar ibadah yang terisikan doa-doa atau sholat, tanpa adanya interaksi dengan manusia. Saya juga menambahkan lagian bisa kan seseorang itu tetap pada niat awalnya? Teman saya malah jadi tambah mangerutkan kening tentunya. Karena memang saya menyampaikan terpotong seperti itu. Karena saya berpikir banyak sekali orang-orang yang hidup hanya mengandal doa-doa atau bersandar pada hal-hal gaib walaupun tetap niat awalnya berserah diri pada Allah, malah justru kejurang kekufuran. Hanya saya tak menerangkan ke teman saya seperti itu, saya hanya menambahkan bahwa usaha dan doa harus beriringan. Karena kita hidup di dunia terikat dengan yang namanya sunnatullah. Disitulah semua hukum fisika, matematika dan teman-temanya bermain. Walaupun tak menafikan bahwa ada kekuatan lain yang Maha Dahsyat yang mengatur segala sesuatu, termasuk urusan-urusan kita di dunia ini. ‘Bahkan se-tak (atheis) beragama seorang pemimpin negara, ada kata yang kadang ia katakan dalam ucapannya berupa kata ‘’semoga’. Itu menunjukan memang ada kekuatan lain itu, yang tak ada manusia yang benar-benar mengenggam hidupnya.

Bincang-bincang kami masih berlanjut, agak semakin panas. Sejam lebih lagi waktu buka akan datang. Seperti ia masih belum puas dengan uraian saya. Dan ini menjadi saya berpikir nantinya, bahwa kita tak benar-benar berilmu dan menguasai sesuatu kalau kita belum mampu men-sharing apa yang kita punya. Karena saya pikir, seperti itulah hukum alam manusia. Kita ada karena ada orang lain. ‘Kita hidup di pikiran-pikiran orang lain’.
Saya masih terus berpikir apa jawaban yang tepat yang bisa saya berikan. Bukan saja saya semakin yakin–karena saya mulai memekirkannya– bukan itu jalan yang tepat untuk hidup. (Selain alasan tak mau kalahnya itu ;) )
Saya berusaha menyakinkannya bahwa kita hidup yah mau tak mau harus beriteraksi, Islam mengajarkan dan menuntut kita untuk menjadi pendakwah. Ia bertanya dengan keraguan, kita semua? Saya menjawab dengan yakin, ya. Setiap kita, ketika ia menjadi seorang muslim ia dituntut menjadi pendakwah. Tentu saja pendakwah itu tak hanya sebatas berceramah keliling kampung atau dari mimbar ke mimbar. Karena yang saya pahami, dakwah itu tak sebatas itu. Setiap ucapan baik kita, tingkah laku luhur kita, dan semua bentuk interaksi yang baik-baik kita denga orang-orang sekitar kita itu bagian dari dakwah. Ini yang saya tangkap dari surat al-Ashr. Kok bisa? Bakal panjang kamu mau dijelasin juga, maybe next time. InsyaAllah. Setidaknya itulah intinya. Salah satu ajaran Islam adalah menjadi pendakwah. Dan berdakwah adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan interaksi dengan yang lainnya, objek. Tentunya orang yang hanya ingin mengisi hari-harinya hanya dengan ibadah vertikal dengan Tuhannya, bukan jalan hidup yang tepat.
Saya lalu mengambarkan bagaimana kehidupan sehari-hari Rosulullah SAW. (jangan lupa bersholawat kepada beliau). Alhamdulillah otak saya mulau teroganisir mencerna masalah ini. Sebenarnya ini kunci untuk masalah ini. Tauladan kita itu Nabi Muhammad SAW. Itu harga mati bagi kita muslim. Saya mulai menjelaskan, Rosul sendiri yang se-sholeh-sholeh manusia dibumi mengisi hidupnya dengan selalu berinteraksi dengan ummatnya. Ia tetap bekerja, bahkan ia kadang harus meminjam uang pada seorang Yahudi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Al-Qur’an sendiri mengambarkan bagaimana Rosul berjalan di pasar-pasar. Padahal Rosullullah sudah dijamin surga, masalah harta, kalo ia mau Allah menawarkan untuk membuat Jabal Uhud emas semuanya. Rosullullah adalah kekasih Allah, begitu betapa besar cintanya pada kekasihnya itu. Mungkin besar sekali hasrat Beliau untuk memenuhi hari-harinya untuk hanya diisi dengan becengkrama dengan Kekasinya. Hanya untung Rosulullah tidak egois. Karena saya katakan orang yang memilih hidup dengan hanya beribah vertikal saja adalah egois.
Mungkin tak benar-benar salah tapi tak tepat menjalani hidup seperti itu. Itu kesimpulan saya saat itu, walaupun nantinya diujung diskusi, saya merubahnya.
Diskusi kami masih berlanjut (jadi mirip komentator bola :) ) Sepertinya saya akan langsung menyingkatkan saja. Sebenernya mengasikkan saat saya berdiskusi saat itu. Saya juga melihat teman saya hanya senyum-senyum kecil. Padalal saya dengan semangatnya menerangkan dengan berapi-api. Ada pikiran bahwa ia sedang menguji saya, tapi tetap saja menurut saya ia sedang ‘membedah’ saya. Dan tentu saja ia ingin tahu jawaban seperti apa yang akan saya lontarkan. Terlihat ketika saya mulai menimbang dengan sebuah cerita, ia akan memeluk bantal guling saya, dan dengan mata penuh keingin tahuan, dan senyum-senyum kecil, saya sempat berpikir apakah ia menikmati bahwa ia seperti membuat saya marah. Karena memang saya selalu bicara keras, apalagi pada saat-saat seperti itu. Ini juga banyak yang langsung menyimpukan saya sedang marah.
Diakhir saya memberi jawaban itu bukan jalan yang tepat bagaimana kita beribadah kepada Allah. Saya bahkan langsung bilang orang yang memilih jalan seperti itu salah. Entah ia sahabat nabi atau tabiin. Karena saya akhirnya mengambil kesimpulan dari cerita tiga orang yang hidup pada jaman nabi. Setelah melihat bagaimana kehidupan nabi yang diisi dengan penuh ibadah, tiga sahabat ini menyimpulkan kalao nabi yang mulia ini saja se-begitu hebohnya dalam menggapai cinta-Nya. Apa kita-kita yang biasa-biasa ini mampu mengkapling sejengkal tanah di surga. Tiga orang sahabat ini pun berikarak kepada Rosulullah SAW. bahwa mereka akan mengekstrem kan ibadahnya. Seorang sahabat lansung berjanji bahwa ia tak akan menikah seumur hidupnya (biar diisi dengan cinta pada Allah saja mungkin), sahabat yang lain berikrak ia akan puasa tanpa berbuka, dan sahabat yang terakhir akan selalu sholat terus menerus. Lansung saja tiga sahabat ini ditegur oleh Rosul. Bukan hidup seperti itu yang diharapkan dalam Islam. Rosul-pun mengingatkan bagaimana kehidupan pribadinya sendiri. Bahwa ia tetap menikah, ia juga berbuka kala puasa. Dan tak setiap waktu sholat terus menerus, karena disana ada hak tubuh kita untuk istirahat.
Saya juga menambahkan, lagi pula semua kebaikan yang kita lakukan kalo diniatkan untuk ibadah menajadi amalam tersendiri disisi tuhan bukan. Dan saya menutupnya bahwa kalo ada orang yang masih berpikir hanya hidup degan beribadah vertikal, dan mengantungkan kebutuhan seharinya-harinya hidupnya pada keajaiban Allah pada nya, adalah orang yang malas. ‘Karena doa dan usaha selalu beriringan.’ Sayang saya tak terpikirkan untuk mengatakan. Lalu apa yakin seseorang bisa mengejar derajat itu ””yang tuhan pun langsung menjawabnya doa-doanya”” yang begitu dekat denga tuhannya. Lalu kalo ternyata ia tak mendapat apa yang seperti ia banyangkan apa mau langsung menyimpulkan bahwa ia tak diperhatikan Allah. Atau berpikir masih kurang ibadahnya, lalu melanjutkan ibadahnya padahal ada hak tubuh yang perlu dipenuhi. Pada akhirnya sunatullah masih berjalan, kita dituntut berusaha untuk mendapakan sesuatu.

Sebenarnya ditengah-tengah diskusi dengan teman saya itu, akhirnya sampai pada uraian ~~ lalu apa alasan kita hidup? Kenapa kita menjadi manusia. Diskusi ini juga menyengkan untuk dibahas. Dan saya bersyukur dengan pertanya-pertanyaan teman saya itu. Ada yang saya dapat, ada saya temukan. Tapi, tulisan ini sudah cukup panjang. Mungkin saya …. innalillah baru nyadar 15 menit lagi waktu shubuh. Artinya saya masih punya waktu 14:58 menit lagi untuk menyelesai sahur. Jangan dipikir saya menulis ini tepat saat kejadian berlangsung. Ini hanya laporan beberapa menit yang lalu. Syukur ada teman sekamar yang mengingatkan. Dan Alhamduillah waktu yang tersisa itu cukup, walaupun jadi tak sehat karena terburu-buru.
Back to topic, insyaAllah ditulisan berikutnya saya akan melaporan diskusi dengan teman saya tadi dengan topik yang berbeda namun jutru agak lebih dalam. Sekian dari saya dan terima kasih. —jadi mirip laporan berita malam di radio yah.

Berubah

Posted On Agustus 31, 2009

Disimpan dalam Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Selalu saja sama tiap kali menulis di sini pasti ada berapa jeda waktu yang lumayan lama. Sebenernya ada begitu banyak yang ingin ditulis, but in the end, karena terlalu banyak pertimbangan ini itu, tulisan itu engga pernah ‘lahir’ hanya sebatas embrio di otak. Mungkin terlalu ideal, terlalu banyak maunya. Ada niatan akan memualai semuanya dari awal lagi, membuat alamat email baru alamat blog baru intinya sih mau berubah, oh iya engga lupa membuat karakter baru. Saya selalu merasa menulis di blog seperti menjadi orang lain.

Karenanya ia seperti karakter yang lain dari diri kita sendiri, atau mungkin bisa dibilang alter ego kita (ueih.. untuk mengingat kata itu sulit sekali). Artinya memang sesuai judul diatas “Berubah”. Sebelumnya mau memakai judul di atas ada niatan memberi judul “Uniknya Manusia” ada juga yang lain, tapi sudah lupa padahal baru beberapa menit yang lalu (jadi inget umur terus bertambah :( . Alasan untuk menentukan judul saja yang rese dan memakan waktu itulah, menjadi alasan yang mirip ketika saya akan menulis, sempurna.

Ingin sekali semua tulisan yang dihasilkan itu harus sempurna, setidaknya di mata saya tentunya. Padahal sudah dari dulu engga ada yang namanya sempurna itu, kesempurnaan itu sendiri adalah sebuah kekurangan. Karenanya kesempatan kali inipun saya pakai untuk berubah (jadi inget sama jagoan masa kecil Satria Baja Hitam)
Sekarang memulai sesuatu yang baru dengan niatan awal. Berapa banyak dari kita yang lupa akan tujuan awal ditengah melakukan sesuatu. Saya pun membuat blog ini untuk agar aktif menulis. Selain belajar dakwah lewat tulisan, membuat dan memaksa otak untuk aktif berpikir. Karena, yang saya rasa salah satu cara mempertajam otak kita adalah dengan cara menulis, saya rasa akan banyak yang setuju dengan yang satu ini.

Jadi inget ketika seorang sahabat nabi mengajak sahabat lainnya untuk berhenti sejenak, untuk me-refresh niat. Dan sepertinya bulan Ramadhan menjadi kan semuanya begitu tepat untuk melakukan perubahan itu walaupun kecil.

Oh iya selagi inget, buat semua muslim di seluruh penjuru, selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga kita keluar bulan penuh berkah ini dengan ber’titelkan’ orang-orang yang bertakwa, Amien.

Kenali Karakter Diri: Awal

Posted On November 25, 2008

Disimpan dalam Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Rencana mau bobo, cuma sulit sekali memejamkan mata. Entah dari mana datang, pikiran-pikiran yang berlompatan tiba-tiba minta ‘perhatian’ terus. Ada memang saatnya Aeh, entah disebut ‘ketiban ilham’, atau apalah namanya. Pada saat-saat seperti itu otak dipaksa untuk memikirkannya, kadang berupa masalah-masalah yang butuh jawaban, kadang pikiran yang lumayan berat-berat tentang kehidupan yang biasanya akan dimulai dengan pertanyaan “mengapa-nya ” itu. Atau pernah juga pikiran yang kadang ‘engga gue banget’ untuk memenuhi rongga otak ini. Cuma yah itu kalo sudah menjajah otak, Aeh paling cuma bisa memanjakan dengan mengikuti kemauan itu. (Baca Terusannya)

Tanggapan: Nasehat Pernikahan

Posted On November 15, 2008

Disimpan dalam Puisi, Renung, Tanggap

Comments Dropped leave a response

Lama tak menulis? Jangan ditanya. Mood ini kadang datang tak di jemput pulang tak diantar (mirip ritual manggil jalangkung). Hanya saja bagusnya masih ada setitik keinginan untuk tetap menulis. Jadi walaupun vakum sampai beberapa lamanya, dalam hati yang paling dalam kecintaan menulis tak akan terkikis habis(mudah-mudahan). Itu berita baiknya, ada juga berita buruknya. Tulisan kali ini cuma “sekedar” mengomentari tulisan orang lain, lebih tepatnya puisi orang lain. Hanya saja mudah-mudahan ini bisa menjadi pematik untuk “kebakaran” tulisan-tulisan yang jauh lebih baik lagi. Dan ada berita baiknya lagi, keinginan untuk membuat cerpen pun tersirami. Ho ho ho.. dan asyiknya adalah Aeh begitu menikmatinya. Cuma jangan ditanya kapan jadinya, karena yang terpenting sekarang ini bagaimana agar jangan terlalu ’sepi’ dari menulis.

Puisi ini bukan gubahan-mungkin-cuma jawaban yang lebih optimis dalam memandang pernikahan. Okeh, sebelumnya agar tak penasaran ini puisinya:

– Nasehat Pernikahan

Abang,
Ibu bilang habis menikah kau akan menghajarku
Memakiku karena tidak punya pekerjaan
Berseloroh aku hanya pembantu rumah tangga yang tak punya harga (Baca Terusannya)

Iman Kita, Sampai Dimana?

Posted On Maret 26, 2008

Disimpan dalam Renung

Comments Dropped leave a response

Iman itu cinta

Iman itu pengorbanan

Iman itu penyerahan diri

Hati ini sudah menentukan kiblat iman-nya

Hapus pada selain-Nya

Hati ini mengenggam erat keyakinannya

Apa-apa tak lagi ada arti

Dan sampai saatnya diuji ketulusannya

Nyawa ini tak lagi begitu bermakna…

Entah sudah beberapa hari, bulan sudah terlewati tanpa karya. Rasa malas ini sulit sekali untuk dilawan. Mungkin begitulah hidup bukan pada mampu atau tidak mampu kita berhasil dan sukses (entah itu untuk urusan dunia atau urusan akhirat nanti) tapi pada pilihan mau atau tidak mau. Tak sedikit hal berseliweran di otak ini, menunggu untuk dituangkan. Mulai dari sekedar karya fiksi sampai yang terakhir kemarin rasa gatal untuk menulis fenomena Ayat-ayat Cinta. (Baca Terusannya)

Serial A-Kai (Anak Kairo)

Posted On Desember 4, 2007

Disimpan dalam Khayal

Comments Dropped leave a response

Aeh lupa apa judul karya fiksi dibawah ini. Karena memang disamping sudah lama sekali Aeh membuatnya, plus awalnya ini adalah tulisan yang belum rampung. Niatnya tulisan ini untuk mengisi karya fiksi bulettin Sriwijaya milik KEMASS-Keluarga Masyarakat Bagian Selatan (salah satu organisasi kekeluargaan di Mesir) hanya karena terjadi diskomunikasi dengan Pemred-nya (Aeh ingin tulisan ini dibuat serial tapi sang pemred hanya menghendakinya hanya sekali saja-cerpen) saat itu tulisan inipun terhenti. Ini rahasia sebenarnya, itu alasan Aeh saja sih karena males untuk melajutkan menulis serial ini. (Baca Terusannya)

Tentang Suka, Pernikahan dan Cinta

Posted On November 11, 2007

Disimpan dalam Khayal, Renung

Comments Dropped 2 responses

Kalau saat ini ada seseorang yang membuatmu hatimu bergetar hebat, jangan cepat menyimpulkan itu ‘cinta’.

*

Kala kamu menjumpai seseorang yang kamu berpikir betapa menyenangkannya untuk bisa hidup dengannya, jangan berguman itu ‘cinta’.

* *

Dan saat kamu menemui seseorang yang kamu dapati darinya hal yang kamu sukai atau kagumi jangan bilang kamu sedang jatuh ‘cinta’. Karena bisa jadi kamu hanya sedang jatuh suka, dan itu jauh berbeda dengan cinta.

* * *

Tulisan kali ini sebenarnya dari sebuah cerita lama tetang pernikahan. Aeh sendiri engga tahu pastiya siapa yang menulis cerita ini. Dan dalam versi aslinya (mungkin) ia bercerita tentang murid Plato yang menanyakan cinta dan pernikahan. Hanya saja Aeh kurang setuju dengan isi cerita itu. Akhirnya setelah merenung, cerita gubahan inipun lahir. (Baca Terusannya)

Belajar Menghadapi Masalah

Posted On November 3, 2007

Disimpan dalam Renung

Comments Dropped leave a response

Bunyi itu kala diam hening

Getarnya kadang membuat bising

Irama indah tak pernah lahir dalam kesunyian

Alunan nan merdu tak pernah muncul dari kebisingan

Kalau saja kita mampu menatanya

Kita akan medapati melodi darinya

~ ~ ~

Entah sudah beberapa hari yang terlewati. Dari awal Ramadhan yang lalu, hasrat untuk menulis cukup menggebu. Hanya saja kemalasan dan rasa ‘takut’ membuatnya jadi tiba-tiba saja berlalu, kosong. (Baca Terusannya)

Halaman Berikutnya »